Lanjut ke konten

PESCAPRAE

Februari 26, 2012
<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
Formasi di daerah pantai terdiri dari berbagai macam di  antaranya adalah hutan mangrove, pes-caprae, baringtonia, dines, pantai berbatu, hutan air payau dan lain-lain. Semua formasi tersebut memiliki karakteristik yang mirip, yaitu tanaman-tanaman pada formasi-formasi tersebut dapat menyesuaikan diri pada lingkungan  dengan kadar garam yang cukup tinggi, panas matahari yang cukup menyengat dengan  memiliki ciri daun yang tebal dan kaku serta mengkilap, tumbuh secara tegak. Keadaan demikian dimaksudkan untuk mengurangi penguapan yang disebabkan suhu yang sangat tinggi (Whitten 1999).
Formasi pes – caprae merupakan bagian dari vegetasi perintis yang terdapat pada garis pantai pesisir di belakang jangkauan pasang tertinggi, didominasi oleh Ipomoea pes-caprae. Umumnya terletak di belakang pantai berpasir dan didominasi oleh tumbuhan pioneer (Anonim 2005). Spesies penyusun formasi pes – caprae yang diamati pada praktikum kali ini adalah Ipomoea pes – caprae, Spinifex littoreus, Crotalaria retusa dan Calotropis gigantea.
a.    Ipomoea pes – caprae
Spesies ini pada semua bagian tubuhnya tumbuh pada stolon yang panjang dan mendatar, batangnya berbuku-buku dan dari bagian ini tumbuh akar serabut. Tipe bunganya Aktinimorf, berkelamin dua, besar, mencolok, berbentuk terompet yang indah. Memiliki buah yang berbentuk kapsul. Tumbuhan ini sering disebut daun katang atau daun barah. Karena bunganya tumbuh saat pagi hari maka tumbuhan ini juga sering disebut ‘the morning glory’ (Anonim 2005).
b.    Spinifex littoreus
Spesies ini memiliki batang keras, kuat, kaku, kokoh, tinggi, berbuku-buku dan silindris. Daunnya berbentuk linearis, panjang, sempit, tajam dan ujungnya meruncing. Tunbuhan ini memiliki akar serabut, hidup berumpun, bertunas menjalar dan membentuk anyam-anyaman. Tunbuhan ini juga memiliki bulir-bulir yang majemuk dan menyerupai bonggol seperti bola. Nama daerah dari tanaman ini  adalah rumput pantai atau rumput lari-lari, rumput angin, tikusan, jukut jonggrang.
c.    Crotalaria retusa L.
Spesies ini umumnya berupa terna, jarang berupa perdu atau pohon. Batang pendek dan bercabang-cabang menyerupai payung. Bunga berbentuk kupu-kupu (papilio). Memiliki buah yang berbentuk polong-polongan sebagai alat perkembangbiakan. Pemencaran secara hidrokori dan zookori. Sering disebut juga orok-orok.
d.    Calotropis gigantea
Preparat ini disebut juga bunga banci atau widuri, tetapi asal katanya berasal dari bahasa Yunani yaitu kalor yang berarti indah dan tropis yang berarti baji. Secara umum memiliki arti tumbuhan yang bunganya terdapat bentuk seperti baji yang indah, yaitu kelima pangkal daun mahkota tambahan. Buah yang dimiliki agak besar, berwarna hijau, berbentuk bulat telur memanjang. Baji tersimpan dalam buah, ujungnya terdapat umbai atau jambul halus seperti benang sutra sebagai alat perkembangbiakan. Mekanisme pemencaran dengan cara parasut atau anemokori.

VI. KESIMPULAN dan SARAN

A. Kesimpulan
1.      Vegetasi penyusun pes-caprae yaitu Ipomoea pes-caprae, Spinifex littoreus Crotalaria retusa L., dan Calotropis gigantea.
2.      Adanya formasi pes-caprae sangat menguntungkan karena dapat mencegah terjadinya abrasi pantai dan dapat mempertahankan ekosistem pantai.
3.      Formasi pes-caprae didominasi oleh Ipomoea pes-caprae.

B. Saran

1.      Preparat diperbanyak.
2.      Waktu melaksanakan kegiatan praktikum diharapkan semua pelaku praktikum    serius, agar praktikum berjalan lebih lancar.
3.      Tersenyum dong….

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Asistensi Biologi Laut. Laboratorium Hidrobiologi Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Anonim. 2005. Petunjuk Praktikum Biologi Laut. Laboratorium Hidrobiologi Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. Cetakan ke-2. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Polunin, N. 1990. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Romimohtarto, K. dan Juwana, S. 2001. Biologi Laut : Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan. Jakarta.
Soegianto. 1983. Kenalilah Flora Pantai Kita. Penerbit Widjaya. Jakarta.
Whitten, T. dkk. 1999. Ekologi Jawa dan Bali. Seri Ekologi Indonesia. Jilid II. Prenhallindo. Jakarta.
Zoer’aini, Prof. Dr. Ir dan Djamal Irwan. 1997. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Cetakan II. Bumi Aksara. Jakarta.
About these ads

From → BIOLOGI LAUT

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: