Skip to content

ANALISIS KUALITAS AIR

Februari 25, 2012
<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lingkungan perairan meliputi semua factor dalam perairan dengan peruahan dan perbedaan – perbedaan serta saling keterkaitan diantaranya keterkaiatn sdan hubungan yang berlangsung, pada dasarnya merupakan suatu mekanisme untuk mencapai omeostatis (kembali kekondisi keseimbangan). Perubahan – perubahan kondisi kulitas air yang melebihi ambang batas toleransi mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan pada proses pembudidayaan.
Ada beberapa karakteristik atau indicator kuliats air yang disarankan untuk  dikaji dalam analisis pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai keperluan.
  1. Muatan sedimen
Muatan sediment dalam suatu system perairan diukur melalui tingkat kekeruhan yang terjadi dialiran air tersebut. Pada tingkat kekeruhan tersebut, cahaya masuk ke badan air berkurang sehingga menghambat fotosintesis. Padahal cahaya matahari itu sangat berguna untuk kehidupan organisme aquatis terutama dalam mempertahankan suhu perairan.
  1. tingkat Kekeruhan
Kekeruhan menunjukkan tingkat kejernihan air yang disebabkan oleh muatan sedimen. Semakin kecil tingkat kekeruhan, semakin dalam cahaya yang dapat masuk keperairan, semakin besar vegetasi aquatis unutk melakukan fotosintesis.
  1. Suhu air
Kenaikan suhu air umumnya disebabkan oleh aktivias penebangan vegetasi sehingga mengakibatkan lebih banyak cahaya matahari yang dapat menembus kepermukaan aliran air tersebut.
  1. pH air
Biasanya digunakan untuk menentukan indeks pencemaran dengan melihat tingkat keasaman/kebasaan air terutama oksidasi sulfur dan nitrogen pada proses pengasaman dan oksidasi  kalsium dan magnesium pada proses pembaraan. pH = 7 netral, pH > 7 basa, pH < 7 asam.
B.     Tujuan
  1. Mengetahui parameter kualitas air dan cara pengukurannya.
  2. Mengetahui hubungan parameter fisik, kimia, biologi dalam kualitas air
C.    Waktu dan Tempat
  1. Waktu
Hari /Tanggal  : Kamis, 25 November 2004
Pukul               : 18.00- selesai
  1. Tempat
Kolam, daerah dekat jombor
I.                   Tinjauan Pustaka
Lingkungan perairan meliputi semua factor dalam perairan dengan peruahan dan perbedaan – perbedaan serta saling keterkaitan diantaranya keterkaiatn sdan hubungan yang berlangsung, pada dasarnya merupakan suatu mekanisme untuk mencapai omeostatis (kembali kekondisi keseimbangan). Perubahan – perubahan kondisi kulitas air yang melebihi ambang batas toleransi mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan pada proses pembudidayaan. (Suanta dkk, 1993)
Kualitas air menjadi bagian terpenting dalam pengembangan sumber daya perairan yang mencakup keadaan fisik, kimia dan biologi, kualitas air tersebut dapat mempengaruhi ketresediaan air untuk kehiupan manusia, pertanian, industri, perikanan, rekreasi dan pemanfaatan lainnya. (Asdak, 1995)
Suhu air sangat berkaitan dengan konsentrasi oksigen terlarut. Suhu tinggi dalam air mengakibatkan tekanan parsial oksgen dalam udara diatas permkaan air rendah. Akibat selanjutnya konsentrasi jenuh oksigen dalam air lebih mudah tercapai. Pada suhu 25o C untuk air murni kosentrasi O2 terlarut jenuh mencapai 8,24 mg/l, sedangkan 35o C hanya 6,93 mg/l. (Ahmad 1992)
Dalam dunia perikanan pH sering kali dipakai sebagai indicator kesuburan suatu perairan, karena pH dapat menentukan kecepatan decomposisi BO menjadi garam mineral seperti ammonia, nitrat, dan fosfat yang dapat dimanfaatkan untuk fitoplankton (Wardoyo, 1982)
Oksigen terlarut sangat berpengaruh terhadap kehidupan aquatic dan proses biokimia (Hauer and Hill 1996). Umumnya perairan yang mengandung sebesar 5 mg/l pada suhu antara 20-30o C dapat dipandang air yang cukup baik untuk kehidupan perairan (Zonneveld et al 1991). Rendahnya nilai O2 terlarut menyebabkan turunnya kehidupan hewan dan tanman air mikroorganisme anaerab menjadi aktif, sehingga terjadi perubahan kondisi badan air yang aerab menjadi anaerab (Fardiaz 1992)
Kecerahan merupakan cara praktis dan dapat diandalkan untuk memperkirakan jumlah plankton dalam kolam yang mengandung suspensi Lumpur tidak berarti. Penggunaan alat secchi menggunkan prinsip suatu batas kedalaman yang menybabkan hilangnya warna dari pandangan mata pada alat tersebut dibenamkan kedalam air populasi plankton selalu mengalami perubahan menyebabkan fluktuasi pada pembaca alat secchi. Pembacaan secchi yang sangat rendah akan menimbulkan masalah kurangnya oksigen terlarut sebaliknya jika sangat itnggi aka mendorong tumbuhnya tanaman air (Boyd 1991)
A.    Hasil Pengamatan
Terlampir
B.     Pembahasan
Kolam merupakan kumpulan air yang dibuat oleh manusia untuk pembudidayaan ikan. Kolam dapat terbentuk karena beberapa faktor baik secara alami atau buatan. Pengamatan ekosistem kolam dilakukan pada waktu yang berbeda, yaitu 06.00, 10.00, 14.00, 18.00 WIB.
1.      Parameter Fisik
a.      Suhu air dan suhu Udara
Suhu air pada daerah inlet, tengah dan outlet dari pukul 06.00 samapi pukul 18.00 WIB adalah 25, 29, 28, 26oC. terlihat disini bahwa suhu air tertinggi itu pada pukul 10.00.hal ini dikarenakan pada saat itu penetrasi cahaya yang masuk kebadan perairan cukup tinggi, sedangkan suhu terendah itu pada pukul 06.00 karena penetrasi cahaya yang masuk ke badan perairan belum terlalu besar. Matahari belum terlalu condong ke barat sehingga belum terlalu panas dan pada saat pukul 14.00 itu keadaan dilapangan sedang hujan sehingga dapat mempengaruhi hasil pengamatan yang diperoleh.
Suhu udara pada daerah inlet, tengah, dan outlet dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00 WIB adalah 23, 31, 25 dan 23oC. suhu udara tertinggi itu terdapat pada pukul 10.00 karena pada daerah ini masih banyak terdapat pepohonan dan juga karena dipengaruhi oleh cahaya matahari. Suhu air dan uadara pada pagi hari relative lebih rendah karena air memiliki panas jenis lebih besar sehingga air mempunyai sifat tidak mudah melepas panas. Suhu terendah yaitu pada pukul 06.00 dan 18.00 karena pada saat pengamatan cahaya matahari pada pagi hari belum masuk kebadan perairan belum terlalu besar dan pada sore hari matahari sudah mulai terbenam serta cuacanya sedang hujan.
b.      Kecerahan
Kecerahan pada daerah inlet, tengah, outlet dari pukul 06.00 sampai 18.0 adalah 35, 30, 21, dan 21 cm. kecerahan tertinggi pada daerah pada pukul 06.00 karena ketika pengamatan dilakukan penetrasi cahaya yang masuk cukup baik. Semakin besar tingkat kecerahan suatu perairan maka semakin dalam cahaya yang masuk kedalam air sehingga meningkatkan kesempatan vegetasinya untuk berfotosintesis. Kecerahan terendah pada pukul 14.00 dan 18.00 karena pada saat pengamatan hujannya sangat deras sehingga intensitas cahaya yang masuk kurang optimal.
Banyaknya kandungan plankton dalam air juga mempengaruhi kecerahan, banyaknya fitoplankton pada daerah outlet juga menyebabkan rendahnya kecerahan yang dikarenakan banyak proses fotosintesis yang mengakibatkan berkurangnya perembesan cahaya.
2.      Parameter Kimia   
1.      DO
DO pada daerah inlet dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00 adalah 4,55 ppm, 3,75 ppm, 5,50 ppm, dan 5,00 ppm, pada daerah tengah 3,75 ppm, 3,30 ppm, 4,70 ppm dan 4,95 ppm sedangkan pada daerah outlet 5,20 ppm, 3,00 ppm, 4,80 ppm, dan 3,75 ppm. Do tertinggi terdapat pada pukul 14.00 pada daerah inlet, pukul 18.00 pada daerah tengah dan pukul 06.00 pada daerah outlet. Hal ini dipengaruhi oleh suhu air dan udara pada daerah inlet yang cukup tinggi yaitu 28oc dan 25oc, pada daerah tengah suhu air dan suhu udaranya yaitu 25oc dan 23oc sedangkan pada outlet yaitu 250c dan 23oc yang disekeliling daerah tersebut terdapat kanopi walaupun jumlahnya tidak terlau banyak tetapi daun – daun itu mengalami proses fotosintesis dan terurai menjadi bahan organik yang akan jatuh ke perairan sehingga meningkatkan DO. DO terendah itu pada daerah inlet, tengah dan outlet pukul 10.00 dimana kenaikan suhu dalam perairan antara lain menyebabkan menurunnya kemampuan perairan tersebut untuk mengikat oksigen.
2.      CO2 bebas
CO2 bebas pada daerah inlet yaitu 48,50 ppm, 36,00 ppm, 56,25 ppm, dan 59,50 ppm, pada daerah tengah 54,00 ppm, 39,00 ppm, 54,00 ppm, dan 82,00 ppm sedanagkan pada daerah outlet 52,00 ppm, 35,00 ppm, 72,00 ppm dan 72,00 ppm. CO2 tertinggi pada daerah inlet yaitu pada pukul 18.00, daerah tengah 18.00 sedangkan outlet pada pukul 14.00 dan 18.00 ini terjadi karena dipengaruhi oleh kepadatan plankton yang cukup rendah sehingga kadar DO rendah dan kadar CO2 menjadi lebih tinggi karena tidak banyak plankton yang melakukan fotosintesis. Kandungan CO2 menunjukkan adanya aktivitas yang dilakukan  plankton yaitu proses respirasi dan juga adanya penguraian sehingga menyebabkan DO menjadi rendah.
3.      pH
pH pada daerah inlet yaitu 6,75 ppm, 6,80 ppm, 6,85 ppm dan 6,90 ppm, pada daerah tengah yaitu 6,75 ppm, 6,80 ppm, 6,75 ppm dan 6,90 ppm sedangkan pada daerah outlet yaitu 6,80 ppm, 6,95 ppm, 6,60 dan 6,80 ppm. pH tertinggi adalah ppm, 6,80 ppm, 6,85 ppm dan 6,90 ppm  pada daerah inlet dan tengah itu pada pukul 10.00, 14.00, 18.00 sedangkan pada daerah outlet yaitu 6,95 ppm, 6,60 dan 6,80 ppm. Yaitu pada pukul 10.00, 14.00, 18.00 karena pada siang hari CO2 digunakan untuk fotosintesis sehingga meningkatakan pH perairan tersebut. Ini menunjukkan keadaan perairan netral. Karbondioksida bergabing secara kimia didalam air membentuk asam karbonat asam karbonat terdisosiasi sebagian membentuk ion-ion hidrogen dan bikarbonat.
Derajat keasaman terendah itu pada pagi hari baik inlet, tengah dan outlet karena pada malam hari plankton melkukan proses respirasi melepas CO2 kedalam air.
4.      Alkalinitas
Alkalinitas pada daerah inlet yaitu 74,00 ppm, 94,00ppm, 93,50 ppm dan 86,50 ppm pada daerah tengah 66,00 ppm, 88,50 ppm, 95,00 ppm dan 3,50 ppm sedangakan pada daerah outlet itu 98,00 ppm, 96,00 ppm, 91,00 ppm dan 70,00 ppm. Alkalinitas tertinggi pada daerah inlet, tengah dan outlet yaitu pada pukul 10.00, 14.00, dan 06.00 hal ini disebabkan karena menurunnya konsentrasi karbondioksida sehingga meningkatkan pH karena CO32- meningkat dan terhirolisis sehingga akan meningkatkan OH menyebabkan penurunan H+ karena CO2 + H2O membentuk H+. Tingginya kadar pH juga dipengaruhi oleh ion-ion basa perairan.
pH rendah hal ini disebabkan karena produktivitas  yang lebih kecil bukan karena hara P dan hara utama lainnya yang lebih besar yang menyebabkan penurunan kualitas air.
3.      Parameter Biologi
Kepadatan Plankton
Kepadatan plankton pada daerah inlet yaitu 5979,000 ind/l, 4245,000 ind/l, 780,980 ind/l, 1850,000 ind/l, pada daerah tengah yaitu 11388,000 ind/l, 6730,500 ind/l, 396,746 ind/l, 1850,000 ind/l, pada daerah outlet yaitu 17343,000 ind/l, 6823,000 ind/l, 337,658ind/l, 1850,000 ind/l. kepadatan plankton yang besar dipengaruhi oleh besarnya suhu air, kandungan DO dan pH yang cukup tinggi sehingga plankton memiliki ketahanan yang tinggi untuk dapat tumbuh dan hidup pada daerah itu. Kepadatan planton juga bebbda-bada karena letak masing-masing stasiun juga berbeda sehingga kandungan ammonium yang terdapat didaerah tersebut juga berbeda.
VI. KESIMPULAN
1.      Parameter fisik, kimia, biolgi merupakan tolok ukur untuk mengetahui kulitas air kolam
2.      suhu, CO2 bebas, DO, kecerahan dan unsure hara merupakan faktor pembatas dalam ekosistem air kolam
3.      karakteristik air kolam merupakan perairan tergenang sehingga kecepatan arus bukan menjadi faktor utama dalam penentuan kualitas air meskipun terdapat aliran arus air yang kecil.
Danau merupakan kumpulan air yang terdapat didalam suatu cekungan yang tidak memiliki aliran air yang menuju laut. Danau dapat terbentuk karena beberapa faktor baik secara alami atau buatan. Pengamatan ekosistem danau dilakukan pada waktu yang berbeda, yaitu 06.00, 10.00, 14.00, 18.00 WIB.
1.      Parameter Fisik
a.      Suhu air dan suhu Udara
Suhu air pada daerah inlet dan outlet dari pukul 06.00 samapi pukul 18.00 WIB adalah 23, 30, 29,50, 22oC. terlihat disini bahwa suhu air tertinggi itu pada pukul 10.00.hal ini dikarenakan pada saat itu penetrasi cahaya yang masuk kebadan perairan cukup tinggi, sedangkan suhu terendah itu pada pukul 06.00 karena penetrasi cahaya yang masuk ke badan perairan belum terlalu besar. Matahari belum terlalu condong ke barat sehingga belum terlalu panas dan pada saat pukul 18.00 itu keadaan dilapangan sedang hujan sehingga dapat mempengaruhi hasil pengamatan yang diperoleh.
Suhu udara pada daerah inlet, tengah, dan outlet dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00 WIB adalah 21, 29, 26 dan 23oC. suhu udara tertinggi itu terdapat pada pukul 10.00 karena pada daerah ini masih banyak terdapat pepohonan dan juga karena dipengaruhi oleh cahaya matahari. Suhu air dan uadara pada pagi hari relative lebih rendah karena air memiliki panas jenis lebih besar sehingga air mempunyai sifat tidak mudah melepas panas. Suhu terendah yaitu pada pukul 06.00 dan 18.00 karena pada saat pengamatan cahaya matahari pada pagi hari belum masuk kebadan perairan belum terlalu besar dan pada sore hari matahari sudah mulai terbenam serta cuacanya sedang hujan.
b.      Kecerahan
Kecerahan pada daerah inlet dan outlet dari pukul 06.00 sampai 18.0 adalah 22,50; 42, 12,50; dan 25 cm. kecerahan tertinggi pada kedua daerah tersebut pada pukul 10.00 karena ketika pengamatan dilakukan penetrasi cahaya yang masuk cukup baik. Semakin besar tingkat kecerahan suatu perairanmaka semakin dalam cahaya yang masuk kedalam air sehingga meningkatkan kesempatan vegetasinya untuk berfotosintesis. Kecerahan terendah pada pukul 14.00 karena pada saat pengamatan hujannya sangat deras sehingga intensitas cahaya yang masuk kurang optimal.
Banyaknya kandungan plankton dalam air juga mempengaruhi kecerahan, banyaknya fitoplankton pada daerah outlet juga menyebabkan rendahnya kecerahan yang dikarenakan banyak proses fotosintesis yang mengakibatkan berkurangnya perembesan cahaya.
4.      Parameter Kimia  
a.      DO
DO pada daerah inlet dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00 adalah 3,80 ppm, 7,05 ppm, 9,05 ppm, dan 5,80 ppm, sedangkan pada daerah outlet 3,40 ppm, 4,10 ppm, 9,35 ppm, dan 7,25 ppm. Do tertinggi terdapat pada pukul 14.00 pada daerah inlet, dan pukul 06.00 pada daerah outlet. Hal ini dipengaruhi oleh suhu air dan udara pada daerah inlet dan outlet yang cukup tinggi yaitu 29,50oc dan 26oc, disekeliling daerah tersebut terdapat kanopi walaupun jumlahnya tidak terlau banyak tetapi daun – daun itu mengalami proses fotosintesis dan terurai menjadi bahan organik yang akan jatuh ke perairan sehingga meningkatkan DO. DO terendah itu pada daerah inlet, tengah dan outlet pukul 06.00 dimana kenaikan suhu dalam perairan antara lain menyebabkan menurunnya kemampuan perairan tersebut untuk mengikat oksigen.
b.      CO2 bebas
CO2 bebas pada daerah inlet yaitu 54,00 ppm, 37,00 ppm, 10,50 ppm, dan 35,00 ppm, sedangkan pada daerah outlet 33,00 ppm, 53,00 ppm, 85,00 ppm dan 68,50 ppm. CO2 tertinggi pada daerah inlet yaitu pada pukul 06.00, daerah outlet pada pukul 14.00 ini terjadi karena dipengaruhi oleh kepadatan plankton yang cukup rendah sehingga kadar DO rendah dan kadar CO2 menjadi lebih tinggi karena tidak banyak plankton yang melakukan fotosintesis. Kandungan CO2 menunjukkan adanya aktivitas yang dilakukan  plankton yaitu proses respirasi dan juga adanya penguraian sehingga menyebabkan DO menjadi rendah.
c.       pH
pH pada daerah inlet yaitu 6,85 ppm, 7,10 ppm, 7,15 ppm dan 7,00 ppm, sedangkan pada daerah outlet yaitu 6,95 ppm, 7,20 ppm, 7,35 ppm dan 6,90 ppm. pH tertinggi adalah 7,15 ppm, pada daerah inlet dan tengah itu pada pukul 14.00, sedangkan pada daerah outlet yaitu 7,35 ppm, Yaitu pada pukul 10.00karena pada siang hari CO2 digunakan untuk fotosintesis sehingga meningkatakan pH perairan tersebut. Ini menunjukkan keadaan perairan netral. Karbondioksida bergabing secara kimia didalam air membentuk asam karbonat asam karbonat terdisosiasi sebagian membentuk ion-ion hidrogen dan bikarbonat.
Derajat keasaman terendah itu pada pagi hari baik inlet, tengah dan outlet karena pada malam hari plankton melkukan proses respirasi melepas CO2 kedalam air.
d.      Alkalinitas
Alkalinitas pada daerah inlet yaitu 74,00 ppm, 65,00ppm, 66,00 ppm dan 82,50 ppm sedangkan pada daerah outlet itu 76,00 ppm, 70,00 ppm, 77,00 ppm dan 68,00 ppm. Alkalinitas tertinggi pada daerah inlet dan outlet yaitu pada pukul 06.00 hal ini disebabkan karena menurunnya konsentrasi karbondioksida sehingga meningkatkan pH karena CO32- meningkat dan terhirolisis sehingga akan meningkatkan OH menyebabkan penurunan H+ karena CO2 + H2O membentuk H+. Tingginya kadar pH juga dipengaruhi oleh ion-ion basa perairan.
pH rendah hal ini disebabkan karena produktivitas  yang lebih kecil bukan karena hara P dan hara utama lainnya yang lebih besar yang menyebabkan penurunan kualitas air.
5.      Parameter Biologi
Kepadatan Plankton
Kepadatan plankton pada daerah inlet yaitu 7693,500 ind/l, 4245,000 ind/l, 3120,000 ind/l, 2559,000 ind/l, pada daerah outlet yaitu 10375,000 ind/l, 6731,000 ind/l, 513,330 ind/l, 3093,000 ind/l. kepadatan plankton yang besar dipengaruhi oleh besarnya suhu air, kandungan DO dan pH yang cukup tinggi sehingga plankton memiliki ketahanan yang tinggi untuk dapat tumbuh dan hidup pada daerah itu. Kepadatan planton juga bebbda-bada karena letak masing-masing stasiun juga berbeda sehingga kandungan ammonium yang terdapat didaerah tersebut juga berbeda.
VI. KESIMPULAN
1. Parameter fisik, kimia, biolgi merupakan tolok ukur untuk mengetahui kulitas air danau
2.      suhu, CO2 bebas, DO, kecerahan dan unsure hara merupakan faktor pembatas dalam ekosistem air danau
3.      pH cenderung basa
4.      karakteristik air danau merupakan perairan tergenang sehingga kecepatan arus bukan menjadi faktor utama dalam penentuan kualitas air meskipun terdapat aliran arus air yang kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, T. 1992. Pengelolaan Mutu Air Untuk Budidaya Ikan. Prosiding Latihan Metodologi Penelitian Aquakultur. Denpasar.
Asdak. 1995.
Boyd, C. E. 1991. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Departement of  Fish and Allied Aquaculture, Agricultur Experiment station Auburn University. Alabama
Fardiaz, S. 1992. Polusi air dan Udara. Kanisius. Yogyakarta
Hauer, F. R. and Hill, W.R. 1996. Temperature, light and Oxygen. In method in stream ecology. Hauer, F. R. and Lamberti (eds), Academic Press. New York.
Zonneveld, N. E. A. Huisman dan J. H.  Boon. 1991. Prinsip – prinsip budidaya ikan. Gramedia. jakarta
                                                                             

From → EKOLOGI PERAIRAN

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: