Skip to content

VARIASI

Februari 25, 2012
<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
       I. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Keanekaragaman banyak ditemukan dalam kehidupan , baik hewan maupun tumbuhan bahkan manusia. Secara morfologik, keanekaragaman mudah sekali diamati karena sifat morfologik terdiri dari sekumpulan ciri karateristik masing-masing organisme. Sifat dan keragaman adalah khas untuk suatu interaksi populasi habitat.
Individu-individu tiap spesies organisme sangat bervariasi dalam ukuran, proporsi tubuh, pola warna, struktur morfologi dan anatomi,  serta fisiologi dan kebiasaan hidup. Dalam suatu populasi ikan (dalam satu speises yang sama), antara individu yang satu dengan yang lainnya akan dijumpai adanya perbedaan-perbedaan ukuran tubuh seperti lebar, panjang, berat, tinggi tubuh, dan cacah squama (sisik). Selain itu juga terdapat perbedaan bentuk dan warna walaupun individu tersebut masih dalam satu spesies yang sama. Kenyataan seperti ini disebut dengan variasi antar individu. Variasi individu terlihat jelas pada fenotip ikan yang dipengaruhi oleh faktor genetik yang diturunkan dari induk kepada anaknya dan faktor lingkungan sekitar.
Adanya variasi dan perbedaan-perbedaan diantara mahluk hidup, maka disusunlah suatu sistem pengklasifikasian yang dinamakan taksonomi. Sistem klasifikasi ini sangat berguna untuk mempelajari variasi antar individu organisme dan juga membantu dalam mengidentifikasi, tatanama dan klasifikasi suatu organisme.
  1. Tujuan
1.            Mempelajari adanya variasi yang terdapat diantara individu-individu ikan yang sejenis (satu spesies)
2.          Membandingkan sifat-sifat yang bervariasi tersebut pada beberapa jenis (spesies) ikan yang berlainan.
3.          Mempelajari korelasi anatara beberapa sifat-sifat yang bervariasi tersebut.
C. Waktu dan Tempat
Praktikum Ekologi Perairan acara Variasi Antar Individu dilaksanakan pada:
Hari/tanggal      : Rabu, 30 Maret 2005
Waktu               : pukul 13.30 WIB – selesai
Tempat              : Kolam Percobaan dan Penelitian Jurusan Perikanan UGM
II. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Ewusie (1990), keanekaragaman bisa diartikan sebagai keadaan yang berbeda atau yang mempunyai berbagai perbedaan dalam bentuk sifat. Keanekaragaman spesies di daerah tropis dapat dilihat pada dua lingkaran, yaitu jumlah besar spesies dengan bentuk kehidupan serupa dan kehadiran banyak spesies dengan wujud kehidupan sangat berbeda yang tidak ditemukan di bagian dunia yang lain.
Keanekaragaman spesies dapat diambil untuk menandai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagian jumlah spesies di antara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keragaman. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologis karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil. (Michael 1994).
Beberapa pengukuran yang sering dilakukan untuk keperluan taksonomi yaitu panjang total atau panjang mutlak, fork length, panjang baku, tinggi tubuh, dan perhitungan cacah squama. (Probosunu 1999).
Menurut Bordach,Langler dan Miller Passino (1977), pengukuran pada ikan yaitu:
  1. Panjang total atau panjang mutlak: jarak garis lurus antara ujung bagian caput (kepala) sampai ujung terakhir sirip ekor yang belakang apabila sirip ekor (pinna caudalis) mudah disatukan.
  2. Fork length: jarak garis lurus antara ujung terdepan caput (kepala) hingga ujung terluar lekukan pinna caudalis. Pengukuran ini sering dilakukan pada jenis-jenis ikan tertentu yang kedua belahan pinna caudalisnya sukar disatukan karena keras. 
  3. Panjang baku: jarak garis lurus antara ujung terdepan caput hingga ujung terakhir tulang verterbre.
  4. Tinggi tubuh: jarak garis lurus antara pangkal pinna dorsalis (sirip punggung) hingga pangkal pinnae abdominals (sirip perut).
Untuk menghitung sisik (squama) pada gurat sisi (linea lateralis) dimulai dari squama di belakang operculum (tutup insang) hingga squama pada permulaan pangkal cauda (Saahin 1968).
  1. Ikan Tawes
Menurut Cahyono (2000), ikan tawes memiliki bentuk tubuh seperti ikan mas, sedikit lebih montok dibandingkan karper. Corak warna bervariasi dari hitam hingga merah. Panjang relatif lebih pendek dibandingkan karper.
Klasifikasi ikan tawes
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Classis             : Pisces
Sub classis       : Actinopterygii
Ordo                : Ostatiophysi
Sub ordo         : Cyprinoidea
Familia            : Cyprinidae
Sub familia      : Cyprininae
Genus              : Puntius
Spesies            : Puntius javanicus
  1. Ikan Nila
 Menurut Cahyono (2000), ikan nila bukan ikan asli Indonesia melainkan berasal dari daratan Taiwan.  Menurut sejarahnya, ikan nila berasal dari benua Afrika dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 1986.
Klasifikasi ikan Nila
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Sub Phylum     : Osteichytes
Classis             : Pisces
Sub Classis      : Acanthopthorigrii
Ordo                : Pericomorphi
Sub ordo         : Pericoidea
Familia            : Cichlidae
Genus              : Oreochromis
Species            : Oreochromis niloticus
Pada Percobaan ini terdapat hipotesis berupa;
1.      Ho
a.         Panjang Baku bernilai besar ditemukan Sisik Horisontal tidak lebih banyak.
b.         Tinggi tubuh bernilai besar ditemukan Sisik Vertikal tidak lebih banyak.
c.         Pertambahan Panjang Baku tidak diikuti pertumbuhan Tinggi tubuh.
2.      Hi
a.         Panjang Baku bernilai besar diikuti Sisik Horisontal bernilai besar.
b.         Tinggi tubuh bernilai besar diikuti Sisik Vertikal bernilai besar.
c.         Panjang Baku diiringi pertumbuhan Tinggi tubuh.
III. METODOLOGI
  1. Alat dan Bahan
1. Alat
          Penggaris
          Kertas milimeter blok
          Plastik mika
          pensil
2. Bahan
          Ikan nila (Oreochromis niloticus)
          Ikan tawes ( Puntius javanicus)
  1. Cara Kerja
  1. Menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan.
  2. Meletakkan cuplikan ikan di atas kertas.
  3. Melakukan pengukuran beberapa tolak ukur pada seluruh anggota populasi cuplikan ikan seperti: panjang total, panjang baku, tinggi tubuh dan cacah squama.
  4. Mencatat dalam tabel semua hasil pengamatan.
  5. Masukkan data yang diperoleh dengan membuat klas interval (interval class), selanjutnya membuat grafik distribusi frekuensinya. Klas interval dicari dengan cara membagi selisih nilai terbesar dan nilai terkecil dengan cacah klas yang akan dibuat.
  6. Data yang didapat kemudian dianalisis guna mencari bentuk dan keeratan hubungan antara panjang baku dengan tinggi tubuh. Bentuk dan keeratan hubungan kedua macam ukuran tubuh tersebut dicari dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi.
  7. Data spesies yang didapat dibandingkan satu dengan lainnya dengan melihat nilai rerata dan simpangan bakunya.
 <!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
B. Pembahasan
Pengamatan Variasi Diantara Individu dilakukan dengan mengambil sampel dari spesies Nila (Oreochromis niloticus) dan ikan tawes (Puntius javanicus). Jumlah populasi untuk masing-masing ikan adalah 30 ekor. Spesies ini diamati dengan pengukuran panjang total, panjang baku, tinggi tubuh dan cacah squama. Perlakuan ini dilakukan pada seluruh populasi.
1.      Pembahasan perspesies
Pada percobaan ini dicari nilai mean, median dan modus, varian dan standar deviasi. Mean ialah nilai rata-rata dari data yang telah diukur. Modus ialah banyaknya ukuran dari  data yang sering muncul. Median ialah kumpulan data yang telah diurutkan dari yang terkecil hingga yang terbesar dan kemudian dicari nilai tengahnya. Varian (ragam contoh) ialah banayknya ragam dalam suatu data. Standar deviasi ialah ukuran yang didapat untuk menentukan ukuran keragaman yang mempunyai satuan yang sama dengan satuan asalnya. 
a.       Ikan tawes (Puntius javanicus)
Pada spesies ini mean, modus, median, varian, standar deviasi tercatat adalah : 3,0692; 2,804; 2,87; 0,4009; 0,633. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pada spesies ini rentang terbesar ada pada ukuran sekitar 2,804 cm. Kelas interval dengan anggota terbesar adalah pada interval 2,336-3,252. Spesies ini memiliki rentang variasi sebesar 0,4009. Ukuran yang membagi data menjadi dua bagian yaitu bagian atas dan bawah ditunjukkan pada nilai median yaitu 2,87.
Frekuensi Relatif adalah nilai frekuensi kelas interval yang telah dibagi oleh jumlah populasi dan digunakan untuk mengetahui perbandingan setiap kelas interval. Frekuensi relatif(FR) tertinggi ialah 80% terletak pada interval 2,336-3,252. Hal ini terjadi karena pada interval tersebut frekuensinya paling banyak sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi frekuensi relatif . Frekuensi relatif berbanding linear dengan frekuensinya, sehingga semakin besar frekuensinya semakin besar juga frekuensi relatifnya. Frekuensi relatif juga berpengaruh pada variasi dari suatu data sehingga semakin besar FR semakin banyak variasinya.
Korelasi  antara Panjang Baku (PB) dan Sisik Horisontal (SH) dengan r = 0,31 memiliki korelasi positif (r>0) yang berarti semakin panjang tubuh ikan maka sisik horisontalnya cenderung bertambah sisiknya. Nilai t hitung adalah 0,173 sedangkan t tabel dengan nilai kepercayaan 95% adalah 2,048. Perbandingan t hitung dan t tabel yang terjadi adalah t hitung < t tabel sehingga seiring pertambahan panjang baku tidak diikuti pertambahan jumlah squama horisontal (tidak beda nyata) sehingga hipotesis dari Ho diterima dengan kata lain yang terjadi hanyalah sebuah variasi.
Korelasi antara tinggi tubuh (T) dengan sisik vertikal (SV) di dapat nilai r = – 0,225. Korelasi yang terjadi adalah korelasi negatif dimana r < 0. Nilai uji t hitung diperoleh sebesar -1,22 sedangkan tabel kepercayaan ialah 2,048. Perbandingan t hitung dan t tabel menunjukkan t hitung < t tabel (Ho diterima) sehingga dengan pertambahan tinggi pada ikan, sisik (squama) tidak ikut bertambah.
Korelasi antara Panjang Baku dan Tinggi mendapatkan nilai r= 0,898. Nilai t hitung adalah 10,7932 sedang t tabel dengan nilai kepercayaan 95% adalah 2,048. T hitung ternyata lebih besar daripada t tabel (t hitung > t tabel) dan hipotesis Hi diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa seiring pertambahan Panjang Baku maka Tinggi tubuh juga bertambah.
b.      Ikan Nila  (Oreochormis niloticus)
Pada spesies ini mean, modus, median, varian, standar deviasi tercatat adalah : 2,579; 2,572 dan 2,573; 2,572; 0,044; 0,21. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pada spesies ini rentang terbesar ada pada ukuran sekitar 2,572 dan 2,573 cm. Kelas interval dengan anggota terbesar adalah pada interval 2,356-2,572 dan 2,572-2,788. Spesies ini memiliki rentang variasi sebesar 0,044. Hal ini menunjukkan bahwa variabilitas preparat tidak terlalu besar. Ukuran yang membagi data menjadi dua bagian yaitu bagian atas dan bawah ditunjukkan pada nilai median yaitu 2,572.
Frekuensi relatif (FR) tertinggi ialah 36,67% terletak pada interval 2,356-2,572 dan 2,572-2,788. Hal ini terjadi karena pada interval tersebut frekuensinya paling banyak yang pada akhirnya akan mempengaruhi dari frekuensi relatif .
Korelasi  antara Panjang Baku (PB) dan Sisik Horisontal (SH) dengan r = 0,261 memiliki korelasi positif (r>0) yang berarti semakin panjang tubuh ikan maka sisik horisontalnya cenderung bertambah sisiknya. Nilai t hitung adalah 1,4305 sedangkan t tabel dengan nilai kepercayaan 95% adalah 2,048. Perbandingan t hitung dan t tabel yang terjadi adalah t hitung < t tabel (hipotesis Ho diterima) yaitu seiring pertambahan panjang baku tidak diikuti pertambahan jumlah squama horisontal. Kesimpulan yang didapat ialah adanya variasi pada ikan nila.
Korelasi antara tinggi tubuh (T) dengan sisik vertikal (SV) di dapat nilai r = 0,0629. Korelasi yang terjadi adalah korelasi positif dimana r > 0. Nilai uji t hitung diperoleh sebesar 0,333 sedangkan tabel kepercayaan ialah 2,048. Perbandingan t hitung dan t tabel menunjukkan t hitung < t tabel (hipotesis Ho diterima) sehingga dengan pertambahan tinggi pada ikan, sisik (squama) tidak ikut bertambah dan yang terjadi hanyalah sebuah variasi.
Korelasi antara Panjang Baku dan Tinggi mendapatkan nilai r= 0,807. Nilai t hitung adalah 7,256 sedang t tabel dengan nilai kepercayaan 95% adalah 2,048. T hitung ternyata lebih besar daripada t tabel ( t hitung >t tabel) sehingga dapat disimpulkan bahwa seiring pertambahan panjang baku maka tinggi tubuh ikan nila juga bertambah (hipotesis Hi diterima).
2.      Pembahasan antar spesies
Spesies tawes memiliki nilai FR (frekuensi Relatif) terbesar ialah 80% terletak pada interval 2,336-3,252  dan pada spesies nila FRnya ialah 36,67% terletak pada interval 2,356-2,572 dan 2,572-2,788. Nilai frekuensi relative terbesar senilai dengan modus pada data, dimana data dengan anggota terbesar pasti memiliki frekuensi relatif terbesar. Sehingga dengan membandingkan nilai frekuensi relatif kita dapat mengetahui ukuran ikan dengan anggota terbanyak. Hal ini menunjukkan bahwa ikan tawes memiliki frekuensi yang besar sehingga ikan tawes lebih bervariasi.
Spesies tawes memiliki nilai mean sebesar 3,0692 dan spesies nila sebesar 2,579. Mean adalah nilai yang menjadi nilai tengah bagi data. Mean secara teoritis ada pada kelas interval pertengahan atau pada kelas dengan anggota terbesar. Nilai mean pada spesies tawes lebih besar daripada spesies nila (mean tawes>mean nila) yang berarti spesies tawes memiliki ukuran tubuh rata-rata lebih memanjang daripada spesies nila.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
  1. Kesimpulan
1.      Hasil pengamatan :
a.       Ikan nila
1)      Panjang Baku vs Sisik Horisontal r =  0,261 dan nilai t hitung adalah 1,4305
2)      Tinggi Tubuh vs Sisik Vertikal r = 0,0629 dan t hitung diperoleh sebesar 0,333
3)      Panjang Baku vs Tinggi r = 0,807 dan t hitung adalah 7,256
b.      Ikan tawes
1)      Panjang Baku vs Sisik Horisontal r = 0,31 dan nilai t hitung adalah 0,173
2)      Tinggi Tubuh vs Sisik Vertikal r = -0,225 dan nilai t hitung adalah -1,22
3)      Panjang Baku vs Tinggi r = 0,898 dan nilai t hitung adalah 2,048
2.  Tingkat kepercayaaan t tabel 95% diperoleh hasil t = 2,048 dengan populasi masing-masing 30ekor
a.       Ikan nila
1)      Panjang Baku vs Sisik Horisontal menunjukkan tidak adanya korelasi yang nyata atau hanya sebagai variasi.
2)      Tinggi Tubuh vs Sisik Vertikal korelasi yang terjadi adalah tidak beda nyata.
3)      Panjang Baku vs Tinggi korelasi yang terjadi adalah terdapat beda yang nyata.
b.      Ikan tawes
1)      Panjang Baku vs Sisik Horisontal menunjukkan tidak adanya korelasi yang nyata atau hanya sebagai variasi.
2)      Tinggi Tubuh vs Sisik Vertikal korelasi yang terjadi adalah tidak beda  nyata.
3)      Panjang Baku vs Tinggi korelasi yang terjadi adalah terdapat beda yang nyata.
3.   Ikan tawes lebih bervariasi daripada ikan nila karena frekuensi relatif tawes lebih besar dari frekuensi relatif ikan nila.
4.   Ikan tawes memiliki tubuh yang lebih dari ikan nila karena mean tawes > mean nila.
B. Saran
            Percobaan ini hanya dilakukan sekali saja sehingga pengukuran yang terjadi tidak terlalu tepat untuk itulah perlu dilakukan beberapa kali percobaan untuk menentukan ketepatan pengukuran.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Perairan. Laboratorium Ekologi Perairan, Laboratorium Ekologi Perairan, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta.
Bordach, Lagler, dan Miller Passino.1977. Ichtyology. John Willey & Sons inc, USA.
Cahyono.2000. Ikan-ikan air tawar. Penebar Swadaya, Bogor.
Ewusie, J. Y., 1990. Elements of Tropical Ecology. Institut Teknologi Bandung : Bandung.
Michael, 1994. Metode Penelitian Ekologi Untuk Lapangan dan Laboratorium. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Probosunu, 1999. Ekologi Perairan. Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

From → EKOLOGI PERAIRAN

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: