Skip to content

BUDIDAYA KODOK

Februari 26, 2012
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 1/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
BUDIDAYA KODOK
1. SEJARAH SINGKAT
Budidaya kodok telah dilakukan di beberapa negara, baik negara beriklim
panas maupun beriklim 4 musim. Tercatat negara-negara Eropa yang telah
membudidayakan kodok antara lain : Prancis, Belanda, Belgia, Albania,
Rumania, Jerman Barat, Inggris, Denmark dan Yunani, Amerika Serikat dan
Meksiko. Sedangkan di Asia, Cina, Bangladesh, Indonesia, Turki, India dan
Hongkong yang telah membudidayakan kodok.
Sejarah kodok tidak diketahui asalnya, karena hampir ditemukan di mana-mana, karena kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan
sekitarnya. Kodok yang banyak dibudidayakan di Indonesia (Rana catesbeiana
) berasal dari Taiwan, kendati kodok itu semula berasal dari Amerika Selatan.
2. SENTRA PERIKANAN
Mulanya uji coba budidaya kodok dilakukan di Klaten (Balai bibit ikan), yang
kemudian meluas ke Jawa tengah. Di Jawa Barat pembudidayaan kodok
banyak ditemui di daerah pesisir Utara, disamping membudidayakan kodok
masyarakat pesisir Utara juga menangkap dari alam. Kemudian di Sumatera
Barat dan Bali juga merupakan sentra pembudidayaan kodok.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 2/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
3. JENIS
Kodok tergolong dalam ordo Anura, yaitu golongan amfibi  tanpa ekor. Pada
ordo Anura terdapat lebih dari 250 genus yang terdiri dari 2600 spesies.
Terdapat 4 jenis kodok asli Indonesia yang di konsumsi oleh masyarakat kita
yaitu:
1 ) Rana Macrodon   (kodok hijau), yang berwarna hijau dan dihiasi totol-totol
coklat kehijauan dan tumbuh mencapai 15 cm.
2 ) Rana Cancrivora (kodok sawah ),  hidup di sawah-sawah  dan badannya
dapat mencapai 10 cm, badan berbercak coklat dibadannya.
3) Rana Limnocharis (kodok rawa), mempunyai daging yang rasanya paling
enak, ukurannya hanya 8 cm.
4) Rana Musholini (kodok batu/raksasa).  Hanya terdapat di Sumatera, terutama
Sumatera Barat. mencapai berat 1.5 kg. Dan panjang mencapai 22 cm.
4. MANFAAT
Daging kodok adalah sumber protein hewani yang tinggi kandungan gizinya.
Limbah kodok yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat
dipakai untuk ransum binatang ternak, seperti itik dan ayam. Kulit kodok yang
telah terlepas dari badannya bisa diproses menjadi kerupuk kulit kodok. Kepala
kodok yang sudah terpisah dapat diambil kelenjar hipofisanya dan
dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam pembuahan buatan. Daging
kodok dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Ketinggian lokasi yang ideal untuk budidaya kodok adalah 1600 dpl.
2) Tanah tidak terlalu miring namun dan tidak terlalu datar, kemiringan ideal 1-5%, artinya dalam jarak 100 m jarak kemiringan antara ujung-ujungnya 1-5
m.
3) Air yang jernih atau sedikit tercampur lumpur tersedia sepanjang masa. Air
yang jernih akan memperlancar proses penetasan telur.
4) Kodok bisa hidup di air yang bersuhu 2–35 drajat C. Suhu saat penetasan
telur ialah anata 24–27 derajat C, dengan kelembaban 60–65%.
5) Air mengandung oksigen sekitar 5-6 ppm, atau minimum 3 ppm.
Karbondioksida terlarut tidak lebih dari 25 ppm.
6) Dekat dengan sumber air dan diusahakan air bisa masuk dan keluar dengan
lancar dan bebas dari kekeringan dan kebanjiran.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 3/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Persiapan Sarana dan Peralatan
1) Kolam
Dalam proses pembuatan kolam, tidak boleh hanya menggali atau
menimbun saja melainkan harus menggabungkan keduanya sehingga akan
mendapatkan bentuk dan konstruksi kolam yang ideal.
Untuk memasukkan air ke dalam kolam diperlukan saluran yang
konstruksinya dibuat dari pasangan bata merah atau batako yang diperkuat
dengan semen dan pasir. Bentuk dari saluran ini biasanya trapesium terbalik
dan pada beberapa tempat pemasukan air ke kolam dibuat kobakan kecil
untuk menjebak air agar mudah masuk kedalam kolam-kolam.
Kolam yang diperlukan antara lain: kolam perawatan kodok, kolam
penampungan induk sebelum dikawinkan, kolam pemijahan, kolam
penetasan, kolam perawatan kecebong, kolam pembesaran percil dan kolam
pembesaran kodok remaja. Kebutuhan kolam ini masih ditambah dengan
kolam pemeliharaan calon induk.
a. Kolam Perawatan Kodok
Luasnya 15 meter

persegi dengan ukuran 3 x 5 m, yang terdiri dari dinding
tembok 0,40 m dan dinding kawat plastik setinggi 1 m, lantainya terbuat
dari semen dan bata yang terdiri dari 2/3 bagian kolam terisi air setinggi
10-15 cm dan 1/3 bagian kering.
b. Kolam Pemijahan.
Kolam dibuat dari semen dan diatasnya dinding kawat plastik. Kedalaman
air di kolam ini sekitar 0,30–0,40 m dan ditengahnya dibuatkan daratan.
Padat pemeliharaan 15 ekor setiap meter perseginya, dengan
perbandingan tiga betina dan satu jantan.
Supaya lebih nyaman, sebaiknya lantai daratan tengah tidak berlumpur,
dan kolam ditanami enceng gondok.  sediakan makanan berupa ikan
kecil, ketam dan bekicot Masa kawin ditandai dengan suara merdu. Tak
lama kemudian, telur mereka mengambang di air kolam dan segera
dipindahkan ke kolam penetasan.
c. Kolam Penetasan
Kolam penetasan dibuat beberapa buah, dari tembok dengan air sedalam
30 cm dan air mengalir atau diberi aerasi yang luas. Luas kolam
seluruhnya 10 m
2
.
d. Kolam Kecebong
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 4/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Terdiri dari beberapa kolam yang masing-masing luasnya berkisar anta 5
m
2
–6 m
2
, dengan dasar lantai terbuat dari semen.
e. Kolam Kodok Muda
Di kolam ini kodok yang dipelihara berumur kurang dari 2 bulan. Dibuat
beberapa buah dengan masing-masing luasnya 15 m
2
, dengan dinding
tembok dan kawat. Lantai miring dengan daerah air 1/3 bagian dengan
kedalaman 15–35 Cm.
f. Kolam Kodok Dewasa.
Pada kolam ini kodok sudah berusia antara 2–6 bulan. Kolam yang
diperlukan terdiri dari 2, dengan masing masing luas kira–kira 20 m
2
,
dengan konstruksi dasar dan dinidng tembok dan kawat. Kedalaman air
yang diperlukan antara 30–40 Cm.
2) Mempersiapkan Kolam Produksi
Bila lantai dasar kolam terbuat dari tanah, dasar kolam diolah dan dicangkul-cangkul dan ditebari pupuk sampai dianggap siap huni. Kolam dibiarkan dulu
tidak terpakai selama sebulan. Selama itu kolam dimasukkan air, didiamkan
dan dikeluarkan berulang-ulang. Persiapkan alat-alat untuk membuat hujan
buatan, baik dari drum bekas maupun dengan menggunakan springkel
karena untuk proses perkawinan kodok biasanya terjadi pada masa
penghujan.
Sebaiknya kolam ditanami teratai, eceng gondok, genjer dan ganggang yang
berfungsi untuk tempat biang kodok bercumbu rayu dan menempelkan
telurnya serta meningkatkan kualitas air kolam dan mempertinggi kandungan
oksigen.
6.2. Pembibitan
Untuk pembudidayaan kodok yang banyak dicari adalah dari jenis kodok
banteng Amerika (Bull frog ), diamping rasanya enak juga beratnya bisa sampai
1,5 kg. Bisa juga jenis kodok batu dari Sumatera Barat yang sampai saat ini
belum dibudidayakan secara optimal, karena masyarakat masih mengambilnya
dari alam.
Adapun syarat ternak yang baik adalah bibit dipilih yang sehat dan matang
kelamin. Sehat, tidak cacat, kaki tidak bengkok dan normal kedudukannya,
serta gaya berenang seimbang. Pastikan kaki kodok tidak mengidap penyakit
kaki merah ( red legs ).
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Pilihlah kodok yang sehat dan berukuran besar. Disamping itu perhatikan
juga tanda-tanda kelamin sekundernya. Pisahkan induk berdasarkan jenis
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 5/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
kelaminnya. Pemisahan dilakukan sekitar 1–2 hari dimaksudkan untuk lebih
merangsang nafsu diantara mereka apabila saatnya mereka dipertemukan.
Untuk induk-induk yang hendak dikawinkan sebaiknya diberikan makanan
cincangan daging bekicot yang masih segar dan makanan buatan lainnya.
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Induk jantan dan betina berumur 4 bulan disuntik perangsang pertumbuhan
Gonadotropin intramuskular dengan dosis 200-250 IU/ekor/bulan.
3) Sistem Pemijahan
a. Secara Alami
Induk jantan dan betina yang telah dipisah selama 1-2 hari disatukan di
kolam pemijahan. Ikan liar dapat mengganggu hasil pemijahan.
Perhatikan agar telur kodok tidak ikut terbuang air pembuangan. Di sore
atau pagi hari pada saat suhu mulai menurun, barulah kita perlu
membantu kelancaran proses pemijahan, yaitu dengan membuat hujan
buatan.
b. Sistem Hipofisasi
Cara mutakhir untuk memijahkan kodok adalah dengan cara sistem kawin
suntik menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang kodok
agar kawin sesuai waktu yang kita inginkan. Dengan sistem ini kita bisa
mengintensifkan pembenihan, mengurangi kematian, merawat telur-telur
kodok yang telah dibuahi dalam tempat tersendiri, memberi jaminan
bahwa telur-telur akan terbuahi oleh sperma seluruhnya dan tidak
memerlukan hujan buatan.
Penyuntikan pada tubuh betina lazimnya pada punggung, rongga perut
dan bagian kepala. cara penyuntikan pada rongga perut banyak dipilih.
4) Reproduksi dan Perkawinan
Kodok yang hendak disuntik ditampung pada akuarium yang diberi sedikit air
dan ditutup dengan kawat kasa untuk memudahkan penangkapan. kodok-kodok tersebut telah cukup umur dan dalam keadaan matang telur. Saat
penyuntikan kodok dibalut dengan kain  hapa agar tidak meronta.
Kodok yang telah disuntik kemudian dilepas dalam akuarium lain dan
dipantau setiap jam. Setelah 12 jam, kodok tadi disuntik kembali agar
mereka mampu bertelur seluruhnya. Setelah yang betina 2 kali disuntik dan
menunjukkan akan bertelur, maka kita mempersiapkan testis dari induk
jantan. Sperma dikeluarkan dari testis dengan cara memotongnya dengan
jarum kecil yang tajam dan dimasukkan ke cawan petri yang sudah diisi
dengan air kolam yang bersih. Setelah air dalam cawan menjadi keruh dan
testis sudah kosong, maka cairan testis dibiarkan selama 10 menit dalam
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 6/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
suhu ruangan. Jika sperma aktif (dapat kita lihat dibawah mikroskop), maka
kodok betina bertelur diurut perutnya agar telurnya keluar. Telur diusahakan
jatuh di atas cairan sperma, lalu digoyang-goyangkan dan biarkan selama
beberapa menit. Telur yang mengalami pembuahan akan mengalami rotasi.
Telur kemudian ditetaskan dan airnya diganti setiap hari dengan menjaga
suhu pada kisaran 24-27 derajat C dan pH air juga diamati.
Pada sistem secara alamiah, digunakan hujan buatan untuk merangsang
proses perkawinan kodok, sebagaimana dijelaskan diatas.
6.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan pada setiap tahap pertumbuhan kodok, Pertumbuhan
dan kesehatan kodok terrgantung pada makanan dan kecocokan tempat
tinggalnya. Kodok diberi makan 1 kali sehari, air di kolam diganti dan
dibersihkan seminggu sekali.
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Telur yang sudah dibuahi, dipindahkan pada kolam penetasan. Kolam
dibersihkan dari hama dan kotoran sebelum digunakan. Telur harus
dipisahkan dari induknya sehingga telur tidak terganggu proses
penetasannya dan tidak dimakan oleh induknya. Memindahkan telur jangan
sampai pecah sarangnya atau lendirnya. Telur-telur akan menetas setelah
48–72 jam pada suhu air 24–27 derajat C. Bila sudah menetas dipelihara
pada kolam yang sama selama 10 hari.
2) Perawatan Ternak
Kodok muda yang telah mengalami metamorphose ditempatkan pada kolam
permanen. Pemasukan dan pengeluaran air harus diberi penyaring untuk
menghindari hama dan mencegah kodok lepas ke peraiaran umum. Padat
penebaran 50-100 ekor/m
2
. Bila kita memelihara jenis kodok banteng yang
tidak suka makanan yang tidak bergerak, makanan harus diletakkan dibawah
aliran air/pancuran. Setelah berumur 3 bulan, kodok diseleksi berdasarkan
kaki belakang, kulit dan ukuran badannya. Jumlah yang di seleksi 20% dari
total dan dipindahkan ke kolam calon induk, sedangkan sisanya tetap
dipelihara sampai masa panen pada umur 4-5 bulan.
Kodok dewasa (matang gonada) untuk bibit unggul, baik jantan maupun
betina di suntik dengan kelenjar hiphopisa kodok sebanyak 1 dosis.
Penyuntikan dilakukan 1 bulan sekali (bila memakai sistem hiphopisa) dan
padat tanam sebanyak 20-25 ekor/m
2
.
3) Pemberian Pakan
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 7/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Terdapat berbagai macam makanan yang dapat diberikan untuk kodok di
kolam pembesaran persil maupun di kolam pembesaran kodok remaja.
Makanan percil sampai kodok dewasa berupa cincangan daging bekicot,
cincangan daging ikan, ulat, belatung, serangga, mie, bakso dan berbagai
benih ikan serta ketam-ketaman kecil dan lainnya.
Dapat juga diberikan makanan buatan, dengan meramu makanan buatan
kita bisa menyusun sesuai dengan tingkat umur kodok, yang terkadang sulit
dilakukan apabila kita memberinya makanan yang langsung didapat dari
alam. Dengan demikian maka problem yang sering dialami seperti ukuran
makanan lebih besar dari lebar bukaan mulut kodok tidak perlu terjadi lagi.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit, Hama dan Penyebabnya
Penyakit kodok umumnya disebabkan oleh serangan jamur dan bakteri. Paha
kaki berwarna merah, luka dan kulit melepuh adalah penyakit yang menyerang
kodok yang berumur 1-2 bulan, menular dan menyerang sistem saraf, sehingga
akan mati dalam beberapa jam.
7.2. Pencegahan Serangan Penyakit dan Hama
Bakteri bisa menyerang kecebong, gejalanya ekor luka dan berwarna putih.
Penanggulangannya  dengan memisahkan kecebong yang terserang, kolam
dibersihkan dengan PK, dosis 0,05 gram/ liter 15 hari sekali, jangan
memberikan makanan yang kandungan proteinnya melebihi dosis 10–15%
karena perut kodok akan menjadi kembung. Pengobatan dengan antibiotika
streptomisin/tetrasiklin, obat luar dengan penggunaan betadine, atau direndam
dalam NaCl 0,15 gram/liter air selama 30 menit, diulang sampai 4 kali.
7.3. Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pengobatan kaki merah dan bisul pada kodok, dengan memandikan kodok
dalam larutan Nifurene 50–100 gram/m
2
 air, atau dengan suntikan teramisin 25
mg/kg, atau streptomycin 20 mg/kg berat kodok. Penyakit dubur keluar diobati
dengan cara pisahkan dan istirahatkan 2–3 hari dan tidak diberi makan.
Penyakit lainnya adalah dubur keluar (ambaien) pada percil (kodok muda).
Untuk mengatasinya, populasi tidak boleh terlalu padat dan kolam harus bersih
dan pemberian kadar kalori dalam makanan tidak boleh melebihi dosis 3400
cl/kg makanan.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 8/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
8. PANEN
8.1. Hasil Utama
Hasil utama yang dihasilkan adalah dagingnya
8.2. Hasil Tambahan
Sedangkan hasil tambahan yang dapat diperoleh adalah dengan mengolah
limbah hasil pemotongan untuk dijadikan silase; dengan penambahan propionat
dan asam formiat dengan jalan digiling bersama sama maka makanan untuk
ternak ini tahan hingga 2 bulan pada suhu sedang. Hasil sampingan lainnya
adalah dengan dijadikan tepung, dimana kandungan mineral dan proteinnya
masih cukup tinggi untuk dijadikan bahan tambahan pakan ternak. Kodok yang
tidak dijual/afkir dapat diambil hiphofisanya untuk proses pemijahan berikutnya.
8.3. Penangkapan
Sebelum disiangi, biasanya kodok-kodok tersebut ditempatkan pada
penampungan. Tempat penampungan kodok bisa berupa kotak kayu atau bak
semen yang drainasenya lancar.
9. PASCAPANEN
Proses penanganan pasca panen juga sangatlah mudah. Untuk menjaga agar
kodok tetap hidup dan segar, maka kita bisa menggunakan karung goni atau
tas kain yang dibasahi. Pengangkutan paling aman dilakukan pada pagi hari
atau sore hari. Apabila pengangkutan dilakukan untuk jarak jauh maka perlu
dibuatkan kotak kayu yang didesain secara khusus, dan kapasitasnya
disesuaikan dengan besarnya kotak kayu tersebut.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Gambaran analisis ekonomi usaha budidaya kodok lembu (rana catesbeiana),
untuk memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh dan untuk menghindari
pos-pos yang tidak penting.
Adapun usaha pembenihan kodok skala kecil 200 M
2
 dengan anggapan
sebagai berikut:
a) Luas Tanah : 200 m
2
b) Luas Kolam : 125 m
2
– kolam penyimpanan induk: 9 m
2
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 9/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
– kolam induk jantan: 3m
2
– kolam induk betina: 3 m
2
– kolam pemijahan/perkawinan: 9 m
2
– kolam penetasan: 8 m
2
– kolam kecebong: 21 m
2
– kolam percil: 20 m
2
– kolam kodok dewasa: 30 m
2
– saluran air dan lainnya: 22 m
2
c) Jumlah Induk.
– induk betina: 6 ekor, jantan: 4 ekor
– induk yang dikawinkan: 3 betina 2 jantanr
– telur yang dihasilkan sebanyak + 30,000 butir/pemijahan.
d) Lama pemeliharaan: 5 bulan
e) Frekuensi pemijahan: 3 kali / setahun
f) Jenis makanan yang diberikan : cacing, belatung, anak ikan, cincangan
bekicot, tepung dengan kadar protein + 35 %.
Sedangkan perkiraan analisis usaha ekonomi budidaya kodok sebagai berikut:
1) Modal investasi
a. pembangunan kolam/kandang 125 m
2
Rp.   2.500.000,-b. alat-alat dan induk Rp.      500.000,-2) Modal kerja ( operasional )
a. Biaya tetap
– penyusutan bangunan  ( 8 % ) Rp.      200.000,– penyusutan peralatan  ( 20 %) Rp.      100.000,– bunga modal ( 18 %) Rp.      540.000,– upah ( 1 orang setahun ) Rp.      360.000,-b. Biaya variabel
– pakan kodok 4.500 kg @ Rp. 250,- Rp.   1.125.000,– pakan kecebong 200 kg 2 Rp. 400,- Rp.       80.000,– perbaikan kandang  ( 5% ) Rp.      150.000,– sewa tanah Rp.       35.000,– administrasi dan pemasaran Rp.      200.000,– lain-lain Rp.      292.500,-Jumlah modal yang dibutuhkan Rp.   6.082.500,-3) Penjualan
a. Produksi percil 45.000 ekor * @ Rp. 100 Rp.   4.500.000,-b. Produksi kodok niaga** 2 x 1.500 @ Rp. 300 Rp.      900.000,-Jumlah pemasukan Rp.   5.400.000,-4) Biaya Operasional
a. Biaya tetap Rp.   1.200.000,-b. Biaya variabel Rp.   1.882.500,-Jumlah biaya operasional Rp.   3.082.500,-
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 10/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
5) Pendapatan bersih sebelum pajak Rp.   2.317.500,-6) Pajak 15 % Rp.      347.625,-7) Pendapatan bersih Rp.   1.969.875,-8) P V =  0,61
9) Break event point ( B.E.P ) Rp.  1.843.317,90
10) BC =  1,75
11) Waktu pengembalian kredit ( PPC ) =  1.5 tahun
Sumber: Balai Penelitian Perikanan Air Tawar ( Balitkanwar ) Bogor, ( Jl.
Sempur No 1. Bogor )
Keterangan:
– Produksi percil dihitung hanya yang hidup, sekitar 55% dari 3 kali pemijahan.
Mortalitas sekitar 45%.
– Diantara percil yang hidup, kurang lebih 1.500 ekor dibesarkan menjadi
kodok niaga. Selama setahun produksi kodok niaga bisa dipanen 2 kali.
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Kodok merupakan komoditi ekspor nonmigas yang cukup potensial. Sejak
tahun 1969 Indonesia telah mengeskpor paha kodok ke berbagai negar.
Bahkan Indonesia sebagai negara pengekspor paha kodok terbesar ketiga
setelah India dan Bangladesh. Kini semakin langkanya kodok di alam akibat
pemburuan besar-besaran sehingga semakin berkurangnya persediaan akan
daging kodok. Hal ini menuntut diadakannya budidaya kodok secara intensif
untuk menghasilkan daging kodok yang masih menjadi budidaya ekspor yang
dapat memberikan keuntungan.
11. DAFTAR PUSTAKA
1) Susanto, Heru, Budidaya Kodok Unggul, Penebar Swadaya, jakarta
1998,126 hal
2) Membudidayakan Katak Hijau di Pekarangan, Sinar Tani, 23 Juni 1993
3) Budidaya Kodok Lembu, Dinas Perikanan Propinsi DT I Jawa Barat,1990
4) Pengganggu Kodok Lembu, Tumbuh, Oktober 1992.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 11/ 11
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
5) Triwibowo,R,drh, Teknik Pemijahan Ternak Kodok, Trubus, 10 oktober
1993.
6) Budidaya Kodok Unggul, Trubus, Oktober 1989.
7) Limbah Kodok Alternatif Tepung Ikan, Surabaya Post, 6 Juli 1993.
8) Tepung Kodok Pakan Ternak Berprotein Tinggi, Agrobis, 8 Nopember 1993
12. KONTAK HUBUNGAN
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan
dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8,
Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,
Situs Web: http://www.ristek.go.id
Jakarta, Maret 2000
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
Editor : Kemal Prihatman
KEMBALI KE MENU

From → PERIKANAN

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: