Skip to content

DEBIT AIR PERAIRAN

Februari 26, 2012
<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Sungai yang merupakan ekosistem lotik, termasuk ekosistem terbuka yang secara alami mendapat masukan unsur hara terutama dari kikisan tanah sejak dari bagian hulu hingga hilir sungai. Kecepatan arus pada ekosistem sungai merupakan faktor pembatas terpenting. Kecepatan aliran sungai sendiri dipengaruhi oleh bentuk saluran sungai, kondisi permukaan saluran, ukuran saluran dan kemiringan saluran. Perairan sungai berdasarkan kecepatan arusnya dapat dibedakan menjadi daerah arus cepat (rapid zone) dan daerah lubuk (pool zone). Masing-masing daerah terssebut memiliki cirri-ciri kehidupan biota akuatiknya yang khas.
            Menurut Soewarno (1995), debit air (discharge) atau besarnya aliran sungai (stream flow) adalah volume aliran yang mengalir melalui suatu penampang melintang sungai persatuan waktu. Debit air sendiri biasanya danyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/detik) atau liter per detik (l/det). Aliran adalah pergerakan air di dalam aliran sungai.
            Oleh sebab itu dengan mempelajari debit air, kita diharapkan dapat menentukan sungai sesuai dengan klasifikasi yang telah ada. Setelah mengetahui klasifikasi dari sungai maka akan semakin memudahkan melakukan penelitian terutama yang terkonsenntrasi pada biota akuatik penghuni sungai tersebut.
B. Tujuan
           
1. Mengetahui cara pengukuran debit air dengan beberapa metode.
2. Mengetahui cara menghitung debit air.
C. Tinjauan Pustaka
            Sebagian besar air (98,6 %) terdapat di laut, sebagian lainnya sekitar 1,2% terdapat di gunung-gunung es di kutub, kurang dari 0,001% terdapat di atmosfer. Namun persediaan air di atmosfer ini mendukung produktivitas primer di atas muka bumimelalui hujan. Air merupakan factor pembatas dalam ekosistem terrestrial. Sebagian besar air di  bumi terikat secara kimia dengan mineral yang berasal dari litosfer primer dan depositif sediment ( Irwan 1992).
            Menurut Soewarno (1995), pengukuran debit air yang dilaksanakan di suatu pos duga air tujuannya terutama adalah untuk membuat lengkung debit dari pos duga air yang bersangkutan. Lengkung debit dapat merupakan hubungan yang komplek apabila debit disamping fungsi dari tinggi muka air juga merupakan fungsi dari kemiringan muka air, tingkat perubahan muka air dan fungsi dari faktor lainnya.
            Menurut Asdak (1995), teknik pengukuran debit aliran sungai langsung di lapangan pada dasarnya dapat dilakukan melalui empat kategori, yaitu :
  1. Pengukuran volume aliran sungai
  2. Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan luas penampang melintang sungai.
  3. Pengukuran debit dengan menggunakan bahan kimia (pewarna) yang dialirkan dalam aliran sungai.
  4. Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit seperti weir (aliran air lambat) atau flume (aliran air cepat).
      Menurut Soewarno (1995), kekurangtelitian atau kesalahan (errors) pengukuran debit dapat diartikan sebagai besarnya nilai perbedaan antara debit yang dihitung berdasarkan pengukuran dengan debit yang sebenarnya. Kesalahan pengukuran debit umumnya bersumber dari dua macam sebab yaitu :
a. Kesalahan petugas
b. Kesalahan peralatan
      Berbicara tentang kesalahan maka kesalahan juga dapat dibedakan antara ketepatan (accuracy) dan ketelitian (precission).    
III. METODE
A. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal    : Jumat, 23 September 2005
Waktu             : Pukul 13.30 – 16.00 WIB
Tempat            : Kolam Perikanan dan Laboratorium Ekologi Perairan
                          Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
   a. Bola pingpong
   b. Stop watch
   c. Alat tulis
   d. Pengukur kedalaman perairan
   e. Pintu air (Weir) tipe Rectanguler
   f. Pintu air (Weir) tipe 90° Notch
   h. Penggaris
   i. Kalkulator
2. Bahan
   a. Perairan Selokan Kolam Perikanan
 
C. Cara Kerja
1. Embody’s float Method
Cara Kerja :
  1. Menentukan panjang selokan yang akan diukur kecepatan arusnya.
  2. Mengukur waktu yang digunakan untuk menempuh jarak yang telah ditentukan dengan menggunakan pelampung.
  3. Menentukan konstanta perairan dengan melihat keadaan dasar perairan (0,8untuk dasar perairan berbatu dan berkerikil 0,9 untuk dasar perairan berlumpur).
  4. Menghitung debit air dengan rumus :
                        R = WDAL/t
                        R = Debit air
                        W = Rata-rata lebar (m)
                        D = Rata-rata kedalaman
                        A = Konstanta perairan
                        L = Jarak yang ditempuh pelampung (m)
                        t = waktu (detik)
2. Rectanguler Weir
Cara Kerja :
  1. Menentukan lebar weir yang dipergunakan.
  2. Membendung selokan dengan menggunakan weir.
  3. Mengukur tinggi perairan dari dasar perairan sampai garis bawah air.
  4. Mengukur ketinggian air setelah dipasang weir.
  5. Menghitung debit dengan rumus :
                        Q = 3,33 x H3/2 ( L-0,2H )
                        Q = Debit air (cfs=cubis feet per second)
                        H = Tinggi Weir (feet)
                        L = Lebar Weir (feet)
3. 90° Notch Weir
Cara Kerja :
  1. Menentukan lebar weir yang dipergunakan.
  2. Membendung selokan dengan menggunakan weir.
  3. Mengukur ketinggian dari dasar perairan sampai garis bawah lubang Weir.
  4. Menghitung debit dengan rumus :
                        Q = 2,54 x H5/2
                        Q = Debit air
                        H = Tinggi Weir (feet)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
B. Pembahasan
            Prinsip kerja dari Embody’s float Method adalah mengandalkan kecepatan bola pingpong mengikuti arus air. Ada beberapa hal yang mempengaruhinya, seperti factor angin dan arus yang berkelok-kelok sehingga menyebabkan waktu yang diperlukan untuk mencapai kisaran jarak tertentu juga berbeda-beda sehingga pada akhirnya nanti nilai debit airnya juga berbeda-beda, yaitu 0,32 cfs; 0,19 cfs; 0,07 cfs dan 0,005 cfs.
            Debit air yang didapat pada penghitungan dengan metode rectangular weir adalah 0,06 cfs; 0,14 cfs; 0,15 cfs dan 0,14 cfs dengan nilai rata-rata debit air 0,123 cfs. Nilai debit air yang didapat dengan menggunakan metode 90° Notch Weir adalah 0,0182 cfs; 0,0281 cfs; 0,0216 dan 0,0281 cfs dengan nilai rata-rata debit air adalah 0,024
                        Manfaat dari perhitungan debit air salah satunya adalah untuk pengendalian banjir. Langkah-langkah untuk dapat mengendalikan luapan air sungai agar tidak begitu melimpah pada saat-saat tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya banjir adalah dengan mengetahui berapabesarnya nilai debit suatu perairan. Kondisi perairan yang tetap terkendali dapat menguntungkan untuk tetap dapat berjalannya usaha perikanan yang ada di badan perairan tersebut. Perhitungan debit juga dapat menunjukkan adanya respon akibat adanya perubahan karakteristik biogeofisika yang berlangsung dalam suatu DAS (oleh adanya kegiatan pengolaan DAS) atau adanya perubahan (fluktuasi musiman atau tahunan) iklim lokal. Hal ini nantinya dapat bermanfaat untuk selanjutnya dilakukan pengelolaan DAS sesuai dengan hukum keseimbangan alam (ekologi) yang pada akhirnya terciptalah kelestarian lingkungan. Terjaganya ekologi DAS sangat besar manfaatnya untuk tetap dapat berjalannya usaha perikanan pada badan air ini sebab ekosistem yang ada di dalamnya hidup dengan faktor-faktor kondisi yang selalu mendukung ( Asdak 1995).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Debit air dengan menggunakan.
2. Metode Embody’s float memiliki kelemahan yaitu adanya kekurangakuratan hasil akibat dari bola pingpong yang berjalan agak membelok ketika dijatuhkan di aliran sungai yang mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk sampai pada jarak 10 meter. 
3. Adanya kelemahan dari setiap metode yang dilakukan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan alat.
4. Adanya kelebihan dari masing-masing metode yang dilakukan, seperti sederhananya cara kerja yang dilakukan pada metode Embody’s float dan keakuratan hasil perhitungan dengan menggunakan metode weir.
5. Ada banyak manfaat dari perhitungan debit air untuk usaha perikanan agar tetap berjalan lestari dengan adanya langkahpengendalian banjir dan pengamatan kondisi kelayakan DAS.
B. Saran
1. Ada baiknya, acara praktikum ini dilaksanakan di luar kampus perikanan UGM.
2. Segala potensi yang ada di kolam perikanan UGM ini juga harus dapat kita gunakan seefektif dan seefisen mungkin.
3. Sebaiknya hasil pre tesnya juga segera dibagikan setelah pre tes berlangsung.
 DAFTAR PUSTAKA
Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada       University Press. Yogyakarta.
Irwan, Zoeraini, Djamal. 1995. Prinsip-Prinsip Ekologi dan Ekosistem Komunitas dan       Lingkungan. Bumi Aksara. Jakarta.
Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi Metode Statistika untuk Analisis Data. Penerbit “NOVA”. Bandung.
Soewarno. 1995. Hidrologi Pengukuran dan Pengelolaan Data Aliran Sungai        (Hidrometri). Penerbit “NOVA”. Bandung.
  

From → LIMNOLOGI

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: