Skip to content

PEMERIKSAAN COLIFORM DALAM AIR

Februari 26, 2012
<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan makhluk hidup tak bisa lepas dari air. Air merupakan sumber kehidupan bagai setiap makhluk yang bernyawa. Namun tidak semua jenis air yang dapat digunakan untuk kehidupan dari makhluk yang berada di alam ini. Air di alam ini terutama untuk kehidupan manusia merupakan hal yang sagat penting sekali baik untuk minum, mandi, sawah dll. Namun untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup yang lain memerlukan air yang bersih dan terbebas dari bakteri-bakteri yang merugikan bila kita mengkonsumsinya.
B. Tujuan
  1. menghitung jumlah coli yang ada di dalam air.
  2. menentukan derajat kebersihan air tersebut
C. Manfaat
  1. untuk mengetahui jumlah bakteri golongan coli dalam air.
  2. untuk mengetahui tingkat kebersihan air.
D. Waktu dan Tempat
      Hari / Tanggal : Selasa,  23 November 2004
      Jam                  : 13.30 WIB – selesai
     Tempat              : Laboratorium mikrobiologi Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah mada.
II. TINJAUAN PUSTAKA
            Kelompok bakteri pencemar yang hidup pada air yang kotor atau sufah tercemar, misalnya bakteri golongan Coli, yang kehadirannya di dalam badan air dikategorikan bahwa air tersebut terkena pencemar fekal (kotoran manusia), karena bakteri Coli berasal dari tinja khususnya manusia. Golongan bakteri Coli, merupakan jasad indicator di dalam substrat air, bahan makanan dan sebagainya untuk kehadiran jasad berbahaya, yang mempunyai persamaan sifat. Gram negative berbentuk batang, tidak membentuk spora dan mampu memfermentasikan kaldu laktosa pada temperature 37◦C dengan membentuk asam dan gas di dalam waktu 48 jam. Escherichia dapat di jadikan indicator adanya jasad pathogen di dalam air (Suriawiria 1993).
Bakteri yang dicari ialah bakteri jenis coliform, termasuk E. coli. Mikro organisme ini termasuk ke dalam spesies yang bergerak dengan mneggunakan flagel yang berkedudukan di lateral. E. coli memiliki pertumbuhan yang baik apabila factor luar seperti medium, kebasahan, pH dan termperatur terkendali.  Penyebab kematian coli antara lain dikarenakan adanya masa paceklik bagi coli dan terganggunya pembiakan dan pertumbuhan akibat ekskresi bakteri itu sendiri. Golongan E. coli merupakan golongan bakteri euritermik, karena ada beda yang cukup besar antara suhu minimum yaitu 80C dan suhu maksimumnya (460C). Bakteri ini mampu mengadakan fermentasi terhadap laktosa, dan menghasilkan karbondioksida, hydrogen, ataupun asam organic (Kasmidjo 1991).
            Pencemaran materi fekal tidak dikehendaki, baik ditinjau dari segi estetika, kebersihan, sanitasi maupun kemungkinan terjadinya infeksi yang berbahaya. Jika di dalam 100 ml air minum terdapat 500 bakteri Coli, memungkinkan terjadinya penyakit gastroenteritis yang segera diikuti oleh demam tifus Eschericia coli pada keadaan tertentu dapat mengalahkan mekanisms pertahanan tubuh sehingga dapat tinggal di dalam blader dan pelvis ginjal dan hati, antara lain dapat menyebabkan diarrhea, septimia, peritonistis, meningistis dan infeksi-infeksi lainnya (Suriawiria 1993).
Menurut Dwidjoseputro (2003), pengujian air di Indonesia terbagi menjadi 3 tahapan yaitu :
  1. Uji Dugaan (Presumptive test)
Air sample dimasukkan kedalam tabung durham. Jika dalam waktu 48 jam ternyata tabung durham mengeluarkan gas, maka dapat dikatakan positif , dan air dikatakan tercemar.gas yang terkandung tersebut diduga berasal dari sel-sel mikroorganisme. Untuk memastikannya dilakukan pengujian yang kedua.
  1. Uji Kepastian (Confirmed Test)
Dilakuakan untuk mengetahui ada E. coli atau tidak, yang menunjuk pada sifat fecal. Cara yang biasa dilakukan ialah dengan menginokulasikannya ke medium Endo agar ataupun medium yang mengandung laktosa. Jika dalam waktu 24 jam tumbuh koloni berwarna kuning keemasan, maka bahan dikatakan tercemar coli.
  1. Uji Kesempurnaan (Completed Test)
Dilakukan dengan mengambil inokulum dan diuji jumlah mikrobiologinya. Pengujian ini didasarkan pada ada atau tidaknya mikroorganisme penghuni usus manusia.        
Perhitungan kelompok bakteri Coli mempergunakan JPT (Jumlah Perkiraan Terdekat) MPN (Most Probable Number), dengan jumlah 3-3-3 atau 5-5-5 tanpa memperhatikan apakah jenis-jenis di dalam kelompok tersebut termasuk Coli fekal/FCB (Fekal Coliform Bacterial) ataupun non FCB. Perbedaan kedua kelompok tersebut di lakukan berdasarkan temperature inkubasi, yaitu untuk FCB (42 ± 10 C) dan untuk non FCB (37 ± 10C). Sedang untuk mengetahui jenis dari golongan yang didapat, harus dilakukan tes lanjutan dengan IMVC (Indol Metilmerah Voges Proskauer dan sitrat) (Suriawiria 1993).
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
1. Alat
– botol tertutup
– tabung Durham
– Oase
– Tabung reaksi
– Petridish
– Pipet ukur 1 ml
– Kertas label
2. Bahan
– Air PAM
– Air sumur
– Air kolam
– Air selokan
– Air isi ulang
B. Cara kerja
Pengambilan contoh air:      
1.      Gunakan botol tertutup yang steril atau bersih.
2.      Bersihkan ujung saluran air, alirkan air selama 5 menit. Tampung ke dalam botol streril dan tutup rapat. Jika botol tidak steril cuci beberapa kali dengan air yang sama sebelum digunakan untuk menganbil contoh.
3.      dari kolam ataupun selokan, ambillah contoh dari kedalaman tertentu.
Coliform dan E. coli
  1. Medium           : Laktose Fermentation Broth dalam tabung durham
Metode            : MPN
Inkubasi          : 1 atau 2 hari pada suhu 37oC. (Coliform membentuk asam dan gas).
  1. Medium           : Endo agar dan Eosin Methylene Blue Agar
Metode            : Goresan, surface plating (Escherichia coli membentuk koloni spesifik pada kedua medium, sedangkan Aerobacter aerogenes membentuk koloni yang sangat berbeda.
  1. Uji IMVIC (Voges-Proskauer) Lihat lembar berikut.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Terlampir
B.     Pembahasan
Pada parktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui jumlah koliform dan E. Coli yang berada pada air. Air merupakan sumber kehidupan dan air juga sebagai tamapat yang cocok untuk tumbuhnya bakateri-bakteri yang dapat merugikan makhluk hidup bila ada yang mengkonsumsinya. Banyak dari jenis bakteri yang hidup dalam air.
Pada parkatikum kali ini dilakukan pengamatan yang secara umum dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama adalah dengan menggunakan metode MPN untuk mengetahui keberadaan bakteri Coliform dengan indikator membentuk asam dan gas pada tabung Durham. Kemudian tahap yang jedua adalah  dengan melakukan goresan pada medium untuk melihat adanya Eschericia coli pada medium dengan indikator membentuk koloni spesifik yang berwarna kuning emas.
Pada pengamatan yang dilakukan diperoleh bahwa kadar koliform tertinggi adalah pada air kolam dan air selokan sejumlah >240.000/100 ml. Pada air sumur sebesar 1200/100 ml, air PAM sebesar 300/100 ml dan kandungan terendah adalah pada air isi ulang sebesar <3/100 ml. Ini terjadi karena pada air isi ulang merupakan air olahan yang akan dikonsumsi oleh manusia sehingga kandungan koliform harus rendah sehingga tidak merugikan pada munusia bila mengkonsumsinya. Sedangkan pada air selokan dan air kolam, kandungan koliform tinggi karena pada keduanya merupakan daerah pembuangan baik pembuang kotoran manusia maupun pembuangan limbah rumah tangga sehingga kandungan koliform cukup tinggi. Sedangkan pada air kola mini terjadi karena sumber air kolam tersebaut berasal dari selokan sehingga kandungan koliformnya masih tetap tinggi.
Sedangkan pada pengamatan selanjutnya dihasilkan bakteri E.coli terdapat pada air kolam, selokan, dan sumur baik secara koloni maupun mikroskopik. Dalam pengamatan mikroskopik digunakan minyak emersi memiliki indeks bias yang lebih tinggi dibandingkan udara, divergen daya pisah miroskop lebih besar, sehingga lebih mudah diamati.
Air yang ada di alam ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu :
  1. Air yang diolah untuk menjadi air minum, dengan kandungan coliform maksimum 10.000/100 ml dan kandungan coli maksimum 2.000/100 ml.
  2. Air yang digunakan untuk pemandian di alam/ pertanian, dengan kandungan coliform maksimum 1.000/100 ml dan kandungan coli maksimum 400/100 ml.
  3. Air yang digunakan untuk perikanan, dan wisata, dengan kandungan coliform maksimum 20.000/100 ml dan kandungan coli maksimum 4.000/100 ml.
Jadi air yang cocok untuk diolah menjadi air minum , pemandian/pertanian dan untuk wisata/perikanan adalah air PAM, air sumur dan air isi ulang. Sedangkan air yang sangat aman untuk diolah menjadi air minum adalah air PAM dan air isi ulang karena pada pengamatan diperoleh bahwa tidak terdapat E.coli baik secara koloni maupun secara mikroskopik.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
1.       Air sumur, PAM dan air isi ulang merupakan air yang memiiki kandungan koliform yang paling kecil.
2.       Air PAM dan air isi ulang merupakan air yang tidak terdapat E.coli pada pengamatan yang dilakukan.
3.       Air sumur, PAM dan air isi ulang merupakan jenis air yang cocok untuk diolah menjadi air minum, untuk pemandian/pertanian dan untuk wisata/perikanan.
B. Saran
1.     Dalam setiap kelompok praktikum tidak terlalu banyak sehingga dapat memperoleh ilmu dan pengalaman dengan sempurna.
2.     Sebaiknnya dalam mengamati kandungan bakteri dalam air dapat dideteksi bakteri apa saja yang terdapat di dalamnya dan juga bakteri mana saja yang merupakan patogen.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 2003. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.
Kasmidjo, R.B. 1991. Penggunaan Limbah Pertanian, Perkebunan dan Industri Pangan. PAU, Pangan dan gizi, UGM, Yogyakarta.
 Suriawira, Unus. Drs. 1993. Mikrobiologi Air dan Dasar-dasar Buangan Secara Biologis.   Penerbit Alumni. Bandung.

From → MIKROBIOLOGI

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: